oleh

Hubungan Harmonis TNI – Rakyat Harus Selalu di Kenang dan Dilestarikan

-Berita, jakarta, News-1,134 views

Topikinformasi.com– Jakarta — Senin (19/12/2022). Pasukan payung Belanda dari Brigade T, dibawah komando Kolonel Van Langen, menyerbu pangkalan udara Maguwo Yogyakarta pada Hari Minggu 19 Desember 1948, Pesawat P-51 Mustang AU Belanda “Cocor Merah” menembaki lokasi-lokasi strategis di pusat kota.

Dari arah Magelang, bergerak tank-tank Suart dan Bren Carrier, serta panser-panser jenis Ford Lynk, Humber dan Otter Body Car Belanda menerjang garis demarkasi Perjanjian Renville dan menyerbu Ibukota Perjuangan. Operatie Kraai, atau Operasi Gagak, dimulai.

Belanda telah mengkhianati Perjanjian Renville 1948, mereka menangkapi dan mengasingkan Presiden, Wakil Presiden dan Pimpinan Negara.
“Republik Indonesia sudah habis, yang tinggal hanya ekstrimis – ekstrimis”, sesumbar pihak Belanda.

Ternyata, ini hanya kemenangan Belanda sesaat. Panglima Besar Jenderal Soedirman telah mengantisipasi serbuan Pasukan Belanda ke Ibukota Perjuangan Yogyakarta ini.

Ia segera menerbitkan Perintah Siasat No.1/Th.1948, yang intinya menyatakan bahwa perang linier telah berakhir, sekarang dimulai perang gerilya. Seluruh satuan TNI keluar dari Yogyakarta, pasukan Siliwangi Long March kembali Ke Jawa Barat. Begitu juga pasukan pasukan lainnya, keluar dari Ibukota Perjuangan dan membentuk wilayah kantong-kantong gerilya untuk mengobarkan perang gerilya semesta di seantero Nusantara.

Baca Juga:  KKMB Sulteng Gandeng BRT Palu Peduli Kemanusiaan untuk Korban Gempa Sulbar

Unit pasukan Akademi Militer Yogya (MA-Yogya), terdiri para perwira remaja dan kadet MA-Yogya, dipimpin Direktur MA-Yogya, Kolonel GPH Djatikoesoemo, segera bergerak keluarga kota dan mengambil posisi di wilayah Barat Laut Yogyakarta, membentuk wilayah perlawanan Sub-Wehrkreise 104 / Wehrkreise III. Wilayah perlawanan gerilya disekitar Yogyakarta dibagi menjadi 7 Sub-Wehrekeise, dibawah Komandan Wehrkreise III, Letkol Soeharto.

Gerilyawan MA-Yogya mengambil posisi markas di wilayah-wilayah: Desa Selomartani, Desa Bimomartani, Desa Kali Bulus, Dusun Plataran, Dusun Sambiroto, Dusun Ngrangsan, Dusun Kledokan dan Dusun Gatak, kesemuanya di wilayah Kecamatan Kalasan, hanya 7 Kilometer dari Candi Prambanan, Yogyakarta. Para gerilyawan tinggal di rumah-rumah rakyat, dirawat oleh rakyat, diberi makan oleh rakyat dan markas mereka selalu berpindah pindah guna menghindari serangan pasukan Belanda.

Baca Juga:  Kabid Humas Polda Sulsel Apresiasi Program Percepatan Vaksinasi Covid 19 di Lutim

Dari markasnya ini, para gerilyawan menyerang pasukan Belanda hingga wilayah
Kaliurang di lereng Gunung Merapi, juga menyerang Pangkalan Udara Maguwo, masuk kota menyerbu Markas Belanda di Jalan Gondokusuman, serta meledakkan jembatan-jembatan Bogem, Bendan dan Kali Wedi yang menghubungkan jalan raya Yogyakarta – Solo.

Dari dokumen pihak Belanda dan pihak Satuan Sub-Wehrkerise 104/WK-III, tercatat 16 kali pertempuran diantara kedua belah pihak pada kurun Desember 1948 – Juni 1949.
Sekembali dari medan pertempuran, rakyat telah menyiapkan teh, kopi dan penganan untuk para gerilyawan lewat dapur umum yang dibangun oleh rakyat. Saat itu, belum ada dukungan logistik TNI seperti sekarang ini.

Apabila ketahuan pihak Belanda maka rakyat ditangkap dan disiksa dengan kejamnya, rumah-rumah mereka dibakar hangus, lumbung-lumbung padi juga dimusnahkan oleh Tentara Belanda.
Semua komponen bangsa berjuang bahu membahu, tanpa pamrih, dengan satu tujuan yaitu: “Indonesia Merdeka”. Hasil perjuangan berbuah manis. Melalui Perjanjian Roem-Royen maka gencatan senjata disepakati, pasukan Belanda meninggalkan Yogyakarta dan pada 29 Juni 1949, gerilyawan TNI kembali masuk ke ibukota perjuangan. Beberapa dari mereka telah gugur di medan laga sebagai kusuma bangsa.

Baca Juga:  Dampak Pilkades Beberapa Kelompok Tani di Kec. tellusiattingnge Mengeluh Tidak Dapat Jatah Pupuk Dari PengecerBONE - Infobanua .co.id Pilkades 2021 untuk kab. Bone tinggal menghitung hari saat ini para calon sedang melakukan sosialisasi, dengan cara mereka masing masing namun terkadang ditemukan dengan cara cara yang seharusnya tak harus dilakukan.Hasil Informasi yang di himpun dari beberapa kelompok tani di 2 desa yakni desa lanca dan desa lappae kec. Tellusiattingnge kab. Bone Ternyata salah satu calon kades di lanca diduga lakukan penyalahgunaan bantuan pupuk yang tersalurkan kepetani tetapi tidak melalui kelompok tani justru langsung pengecer. Kemudian pengecer memberikan ke petani yg diduga untuk mendukungx di pilkades mendatang .Dan ironisnya petani yang tidak mendukungnya justru mendukung calon lain tdk mendapatkan pupuk."Memang ada indikasi penyaluran pupuk terjadi penyimpangan tdk melalui kelompok tani tapi langsung ke petani yg diduga pendukung pengecer yg masuk calon kep.desa lanca" ungkap Mansur kelompok tani majang saat dimintai keterangannya Jika ini benar terjadi , jelas sangat merugikan masyarakat dan tidak per dalam persaingan Pilkades . Bisa ditebak akan ada sengketa karena beda pendapat antara pihak yang merasa dirugikan dengan pihak yang dianggap merugikanMaka diharapkan kepada pihak terkait atau panitia pelaksana Pilkades hendaknya melakukan langkah2 preventip sebelum Pilkades berlangsung 18.Nov 2021 (A.Ida)

Peristiwa 19 Desember 1948 kemudian diperingati sebagai Hari Bela Negara berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006.

Semangat gerilyawan dan hubungan harmonis TNI-Rakyat harus selalu dikenang dan dilestarikan. Juga, harus terus dihayati pesan-pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang intinya adalah: Tidak Mengenal Menyerah, Percaya Pada Kekuatan Sendiri, TNI lahir dari rakyat, TNI hidup bersama rakyat,TNI tidak boleh menyakiti rakyat dan TNI mengabdi hanya untuk rakyat. TNI-Rakyat Bak Ikan dan Air.

Kisah ini diceritakan kembali oleh :
Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, MSc., Ketua Dewan Kurator Museum Soesilo Soedarman, Cilacap.
Laporan : (Lina)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *