oleh

Benarkah Perokok Lebih Tahan Melawan Covid-19 CARA MUDAH DAN MURAH MENANG HADAPI VIRUS CORONA

Oleh:
dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed.
Dokter Ahli Kekebalan Tubuh (Imunologi) – Presiden GBN

Topikinformasi.com – Jakarta
Sudah 1,5 tahun dunia dilanda pandemi covid-19 dan di Indonesia alami lonjakan dan penyebaran sangat fantastik. Apa yang bisa disumbangsihkan sebagai bekal untuk tenangkan masyarakat hadapi covid-19?

Saya ingin sampaikan salam sehat kepada seluruh rakyat khususnya yang ada di pedesaan diseluruh Indonesia.

KENAPA HARUS TENANG, DAMAI DAN TENTRAM HADAPI COVID-19? Karena secara otomatis mendorong kinerja sistem kekebalan tubuh manusia (psiko-neuro-immuno-endocrynology system) jauh lebih baik. Sehingga tatkala terpapar virus covid-19 mampu melawan, tetap sehat dan mendapatkan kekebalan tubuh yang bisa melindungi diri sendiri, keluarga, masyarakat, rakyat dan bangsa Indonesia.

KENAPA TIDAK BOLEH PANIK, GALAU DAN TAKUT SEDIKITPUN HADAPI COVID-19? Karena bisa membuat respon kekebalan tubuh langsung drop sehingga bisa berat bahkan fatal tatkala terpapar virus covid-19. ‘Jangankan virus covid-19, ‘normal flora’-pun, mikro-organisme yang menjadi sahabat tubuh manusia untuk menjaga sistem homeostasis atau keseimbangan tubuh tatkala daya tahan tubuh drop jadi infeksius’.

“JADI KUNCI DASARNYA ADALAH SELALU BERSYUKUR DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN SEHINGGA HATI DAN JIWA KITA HARUS TENANG, DAMAI DAN TENTRAM DALAM MENGHADAPI COVID-19.”

APAKAH BENAR PEROKOK LEBIH TAHAN MELAWAN COVID-19? Terkait dengan hasil beberapa research yang dilakukan di Prancis dan China menyangkut realitas adanya data bahwa perokok itu lebih sedikit yang menderita covid-19.

Di Prancis sekitar 5-8% dengan populasi perokok sebanyak 30% dari total penduduk Prancis. Di China 12,5% dengan populasi perokok sebanyak 26%.

Saya sebagai dokter yang mempelajari ilmu kekebalan tubuh (imunulogi) ingin menyampaikan secara scientific bukan berarti saya mendorong masyarakat untuk merokok.

Pertama, virus apapun termasuk covid-19 butuh inang untuk hidup dalam tubuh manusia. Tanpa inang virus akan mati sendiri. Virus covid-19 masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dari hidung masuk ke paru paru. Ditularkan melalui droplet, cairan dari bersin atau batuk dari penderita atau carrier virus covid-19.

Untuk bisa hidup, covid-19 butuh sel inang dari sel tubuh. Untuk bisa masuk ke dalam sel inang harus ada reseptor virus covid-19, secara umum disebut reseptor ACE-2.

Dalam beberapa kajian dan penelitian ternyata reseptor covid-19 yaitu reseptor ACE-2 juga jadi reseptor nikotin. Artinya harus saya luruskan bahwa bukan perokok punya daya tahan tubuh lebih kuat terhadap covid-19 dibandingkan yang bukan perokok.

Namun pada perokok ada kandungan nikotin di sel paru paru yang sudah menempati reseptor ACE-2 sehingga virus covid-19 tidak bisa menempel dan tidak ketemu sel inang akhirnya mati.

Hal tersebut yang membuat populasi perokok aktif yang terkena virus covid-19, baik di Prancis, China, Korea Selatan, juga di Italia lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak merokok.

Bahkan di Prancis ada data yang menyampaikan bahwa 80% perokok aktif itu resikonya lebih kecil dibandingkan yang tidak merokok.

“Sekali lagi, ini bukan terkait dengan daya tahan tubuh tapi virus covid-19 kalau memapar pada orang perokok aktif, reseptornya (ACE-2) sudah ditempati nikotin karena resptornya sama”.

Dan saat ini lagi diperdalam apakah mungkin nikotin ini menjadi salah satu bahan atau zat yang bisa digunakan pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi virus covid-19. Hasil ini sedang dilakukan penelitian lebih lanjut dan kita tunggu hasilnya.

Demikian pula dengan adanya beberapa informasi, baik dari WHO, IDI, beberapa dokter dan lainnya bahwa perokok punya resiko yang lebih besar terpapar virus covid-19 dan dikaitkan dengan respon kekebalan tubuh,

juga ada yang sampaikan bahwa perokok yang dirawat di RS karena covid-19 banyak yang meninggal namun dikaitkan dengan penyakit komorbid, saya kira itu juga belum mendapatkan sebuah basic scientific ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Jadi yang membuat resiko terhadap beratnya penyakit covid-19 itu adalah underliying disease (komorbid) dan atau ada kelemahan daya tahan tubuh (imunodefisiensi), buka perokok atau bukan perokok. Yaitu memiliki penyakit immunosupresif, immunodefisiensi, dalam treatment cangkok organ, punya penyakit alergi seperti asma bronchialis, penyakit ginjal, jantung, kencing manis, juga penyakit paru paru kronik.

Baca Juga:  Kapolri Minta Semua Lokasi Pusat Aktivitas Warga Dipasangi Aplikasi PeduliLindungi

APAKAH SAKIT COVID-19 BISA SEMBUH SENDIRI??? Penyakit covid-19 ini bisa sembuh dengan sendirinya atau self limited disease melalui respon kekebalan tubuh manusia. Manusia juga bisa terhindar terpapar covid-19 melalui perilaku hidup sehat yang sederhana dan murah.

Virus covid-19 ditularkan melalui droplet yang masuk lewat saluran pernafasan dari hidung masuk ke paru-paru. Bukan melalui mulut karena tatkala lewat mulut begitu masuk lambung langsung mati karena ada asam lambung.

Apa yang harus dilakukan habis beraktifitas pulang ke rumah? Kepada masyarakat khususnya di pedesaan diseluruh Indonesia, saya berharap setiap habis keluar beraktifitas, misalkan habis berjualan di pasar, bertani, nyopir dan lainnya kemudian pulang ke rumah.

1). Siapkan di luar rumah tempat cuci tangan pakai sabun. Sabun apapun tidak perlu mahal yang penting virus covid-19 segera terbunuh oleh sabun.
2). Harus segera mandi pakai sabun.
3). Pakaian segera dicuci dengan sabun, dan,
4). Mencuci hidung dengan air garam krosok (garam asli laut, tidak mengandung yodium) 1% hangat.

Kenapa harus cuci hidung dengan air garam krosok 1%?

Karena virus covid-19 ini menempel (memapar) pertama kali di mukosa (lapis permukaan) hidung, dan pada jumlah tertentu ada yang masuk ke paru-paru. Caranya sangat mudah. Satu sendok makan garam krosok dilarutkan dengan air hangat 1 liter.

Dimasukkan semisal ke botol kecap. Kemudian hidung kanan dan kiri di cuci masing-masing tiga kali dan dapat dikeluarkan lewat mulut atau hidung.

Semua ingus atau lendir di hidung yang banyak mengandung bakteri, virus dan lainnya langsung bisa keluar/dikeluarkan. Dan Virus covid-19 itu media yang disukai itu adalah droplet (ingus/lender di hidung). Maka kalau hidung setiap hari dicuci pakai air garam krosok hangat 1%

setelah beraktifitas (diluar rumah) maka virus covid-19 bersih di hidung sehingga tidak masuk ke paru-paru sehingga terhindar dari penyakit covid 19. Akan jauh lebih baik juga dilakukan pagi hari sebelum sebelum beraktifitas.

Kenapa harus pakai garam krosok (asli laut) bukan garam beryodium? Garam krosok ini unsurnya adalah NaCl (Natrium Clorida). Virus covid-19 itu punya listrik negatif yang kuat.

Ketika kena air garam krosok 1% hangat bisa dilepaskan dari mukosa hidung. Tidak boleh pakai garam beryodium karena bisa memperkuat daya ikat virus covid-19 di mukosa hidung.

Kenapa airnya dihangatkan? Ini juga perlu diketahui oleh masyarakat di pedesaan juga di perkotaan. Virus covid-19 ini lebih suka di tempat yang lembab, basah dan gelap.

Kita di anjurkan untuk mencuci hidung dan berkumur pakai air garam krosok 1% hangat. Kita juga di anjurkan minum air panas atau air setengah hangat setengah panas.

Karena disitu nanti bisa mendorong kematian virus covid-19 sebelum masuk paru-paru. Cara ini sangat sederhana, sangat mudah dan murah untuk terhindar dari covid-19.

“Kita harus ingat, nenek moyang leluhur bangsa Indonesia dulu setiap di depan rumah ada gentong berisi air untuk mencuci tangan dan kaki. Jadi sekarang ini kita kembali ke tradisi nenek moyang leluhur bangsa. Di depan rumah disiapkan tempat cuci tangan pakai sabun apa saja, tidak perlu mahal, kemudian langsung mandi, pakain langsung dicuci pakai sabun dan cuci hidung dengan air garam krosok 1% hangat”.

Bagaimana untuk meningkatkan daya tubuh terhadap Covid-19? 1). Cukup dengan makanan yang gizinya baik. Di kampung pedesaan itu kan banyak makanan bergizi yang murah.

Saya ini kan asli pelosok kampung Mojokerto Jawa Timur, tidak harus makan daging atau cumi-cumi yang mahal. Cukup yang bergizi, sayur mayur, tahu tempe, ikan-ikanan semisal asin, ikan kelotok, kalau ada makan telor ayam. 2). Minum air putih yang cukup diusahakan hangat atau setengah panas. 3). Istirahat dan aktifitas fisik yang seimbang. 4).

Kalau ada dana beli Vitamin C, generik saja tidak perlu yang mahal. Cukup minum Vitamin C 500 mg satu tablet sehari bisa meningkatkan respon kekebalan tubuh 2-4 kali lipat. 5). Berjemur Sinar Matahari Jam 10-12 Siang.

Baca Juga:  Polda Sulbar Bersama Forkopimda ikuti Upacara Hari Bhayangkara ke-75 Secara Virtual

Kita memang butuhkan vitamin D untuk tingkatkan daya tahan tubuh. Tapi kan harganya cukup mahal, dan saat ini masyarakat sudah banyak yang kesusahan untuk makan sehari-hari.

Cukup berjemur sinar matahari minimal 15 menit pada jam 10-12 siang untuk meningkatkan produksi vitamin D didalam tubuh kita.

BISAKAH COVID-19 MELAYANG-LAYANG DI UDARA? Virus covid-19 ini tidak bisa terbang-terbang di udara, tempat yang disukai adalah lembab, basah dan gelap, tidak bertahan lama di tempat kering, panas, terang dan terbuka.

Sedangkan media yang disukai adalah droplet dari bersin atau batuk dari penderita atau carier covid-19. Droplet bisa nempel di benda.Tatkala benda itu kita pegang kemudian tangan nempel ke hidung maka bisa terpapar covid-19.

Jadi yang terpenting dan mendasar adalah kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum memegang muka. Demikian pula, begitu pulang dari beraktifitas pakaian harus segera dicuci pakai sabun.

Jika ada yang bersin, ada yang batuk dirumah dan dropletnya kena meja makan atau tempat lainnya cukup segera dibersihkan pakai sabun maka virus covid-19 langsung mati.

Droplet bisa masuk ke tubuh kita dengan jarak 1,5-2 meter. Oleh karena harus ada social distancing tatkala ada yang batuk pilek di rumah mau pun saat interaksi di luar rumah.

BAGAIMANA DENGAN KEBIASAAN ‘NGUPIL’ DAN PAKAI MASKER? Pertama, yang paling penting adalah ketika keluar rumah harus selalu jaga diri tidak terpapar covid-19. Yaitu, 1). Memakai masker. Memakai masker yang baik dan benar bisa jadi penyekat droplet tidak masuk ke hidung.

Jika asal-asalan atau tidak tidak benar maka akan meningkatkan resiko terpapar covid-19. Contoh hidung tidak tertutup, tangan pegang bagian luar masker lalu pegang hidung.

Bisa pakai masker kain tiga lapis sampai dirumah langsung di cuci. Saya tidak memaksakan harus pakai masker Kesehatan karena harganya mahal. 2). Selalu membawa sabun tangan atau handsanitizier sendiri, 3). Mencegah kerumunan, dan, 4). Kalau ada interaksi antar kita jaraknya dijaga minimal 1,5-2 meter. 5).

Setiap habis memegang sesuatu (barang) harus cuci tangan pakai sabun atau pakai handsanitizier. Tatkala tangan sudah dicuci maka virus covid-19 sudah tidak ada.

Jadi yang paling mendasar kebiasaan mencuci tangan sebelum pegang sesuatu, ngupil atau memegang muka atau hidung. Kalau ini kita lakukan, dan sampai dirumah langsung cuci tangan, pakaian langsung di cuci, langsung mandi, dan cuci hidung dan kumur pakai air garam krosok 1% hangat insya-Allah kita tidak terpapar virus covid-19.

“JADI ADA CARA YANG SANGAT SEDERHANA DAN MURAH UNTUK TIDAK TERPAPAR VIRUS COVID-19”.

Apa yang dilakukan tatkala kita terkena ‘flue like syndrome”? Tahap awal terinfeksi virus apa saja di saluran pernafasan ditandai dengan gejala ‘flue like syndrome’ yang merupakan respon normal dari sistem kekebalan tubuh kita, yaitu panas, batuk, pilek, greges, juga sakit menelan. Kita tidak boleh memvonis diri terkena covid1-9 tatkala ada gejala flue like syndrome,

kenapa? 1. Karena belum tentu akibat infeksi virus covid-19 bisa akibat lainnya. 2). Supaya hati dan jiwa tetap tenang, damai, dan tentram sehingga mendongkrak respon kekebalan tubuh.

Cukup dengan istirahat, makan banyak dan bergizi, asupan air yang cukup, berjemur jam 10-12 siang selama 15 menit, minum Vitamin C 500 mg, kalau ada panas minum obat panas, kalau ada batuk pilek minum obat batuk pilek.

Jika 3-4 hari gejala belum meredah baru konsultasi ke dokter terdekat, bisa langsung, melalui telpon atau WA. Jika 2 hari setelah ditangani dokter, gejala flue like syndrome belum meredah kembali konsultasi ke dokter.

Jika ada konfirmasi diagnosis positif covid-19 melalui PCR, sepanjang tidak ada gejala berat semisal sesak nafas, jauh lebih baik dirawat rumah dan isolasi mandiri.

Kenapa? Hari ini psikologi masyarakat begitu dengar masuk rumah sakit, apalagi di media sosial berkeliaran gambar-gambar di Rumah Sakit yang ‘menyeramkan’ bisa membuat panic syndrome bisa menurunkan daya tahan tubuh.

Baca Juga:  Audiensi Dengan Mendes PDTT, Kapolri Pastikan Pendampingan Edukasi Dana Desa

Kalau hati dan jiwa tenang, damai dan tentram, istirahat, gizi baik, asupan air memadai, minum Vitamin C, berjemur, dan minum obat dari dokter yang merawat,

insya-allah dalam waktu 14 hari bisa sembuh. “Jadi tidak boleh panik, galau dan takut tatkala di vonis covid-19. Lebih dari itu, tidak boleh memvonis diri akan meninggal. Demikian pula tatkala harus di rawat di RS karena ada gejala berat seperti sesak nafas”.

APAKAH PROTOKOLER PENANGANAN JENAZAH AKIBAT COVID-19 BERLEBIHAN? Saya pada 8 April 2020 menulis di beberapa media cetak dan online bahwa rakyat tidak boleh panic syndrome. Rakyat tidak boleh di takuti-takuti. Karena begitu panik dan ditakut-takuti langsung daya tahan tubuh drop.

Tentang protokoler pemakaman jenazah akibat covid-19, pertama, secara scientific kalau orang sudah meninggal maka semua sel sudah mati. Artinya sel inang covid-19 sudah tidak ada. Kedua, virus covid-19 ini ditularkan melalui droplet sudah tidak ada bersin atau batuk lagi.

Namun memang kenapa hari ini ada protokoler pemakaman jenazah covid-19, menurut padangan saya tujuan utamanya adalah untuk menghindari terjadi kerumuman.

Untuk mencegah terjadinya interaksi antar manusia yang punya resiko paling besar untuk menularkan dan menyebarkan covid-19.

Namun tidak boleh berlebihan. Karena ini bisa membangun image bahwa orang yang terkena dan atau meninggal akibat covid-19 secara sosial dihindari oleh masyarakat. Ini sangat berbahaya bisa sebabkan panik, galau dan takut, serta kasihan keluarganya. Saya hanya menghimbau pemerintah untuk menelaah kembali kebijakan tersebut.

Pemerintah harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa jenazah covid-19 itu sebenarnya masih punya resiko menularkan ke orang lain atau tidak? Kenapa protokoler pemakamanannya sangat ketat sekali. Kedua, pemakaman ini memang utamanya untuk hindari terjadi kerumuman.

Kita bisa membayangkan, kalau orang tidak di kenal bisa 30-50 orang yang mengiringkan ke pemakaman, namun, kalau tokoh besar bisa ribuan.

Kalau utamanya untuk menghindari kerumuman mengapa peti jenazah akibat covid-19 tidak boleh dibuka? Pertama, sejak awal terjadi pandemi covid-19 ada pengemasan penyampaian ke publik yang overload (berlebihan).

Seakan-akan covid-19 ini hadir langsung kita terancam meninggal dunia. Sehingga psikologi masyarakat hampir seluruh dunia, juga di Indonesia menghadapinya dengan panic syndrome, galau dan takut. Dan seakan-akan begitu terkena covid-19 memvonis dirinya akan mati.

Kedua, kita juga menyaksikan bahwa belum ada penjelasan pemerintah terkait protokoler pemakaman jenazah akibat covid-19 yang begitu ketatnya terkait aspek “penularan dan penyebaran” covid-19. Soal peti khusus jenazah akibat covid-19 yang tidak boleh dibuka memang menimbulkan pertanyaan bagi sebagian masyarakat.

Demikian pula “peti yang sangat rapi dan terkesan mewah” akhirnya ada yang punya pandangan (isu) yang berkembang jangan-jangan ada sesuatu dibalik ini semua. Juga terkait dengan seputaran vaksin, rumah sakit, obat, APD, dan lainnya.

Supaya rakyat tidak kebingungan, tidak memvonis sanksi sosial bagi yang meninggal akibat covid-19, serta tidak timbulkan penic syndrome, pemerintah harus menjelaskan secara resmi perihal protokoler pemakanan jenazah akibat covid-19.

Bagaimana dengan perkantoran, pusat berbelanjaan, lapak PKL, pasar tradisional dan Kawasan wisata? Saya sudah ke sekian kalinya meminta kepada pengelola perkantoran dan semua pelaku ekonomi baik PKL, minimart, hypermart, pasar tradisional, warung kelontong, kawasan wisata, dan lainnya harus menyediakan tempat cuci tangan dan sabun, berinteraksi selalu pakai masker, menjaga jarak (social distancing), serta harus mencegah terjadinya kerumunan.

Khusus untuk tempat yang tertutup, perkantoran dan pusat perbelanjaan dan lainnya harus menjamin ada ventilasi udara yang baik dan tidak dingin (AC harus dikurangi). Karena virus covid-19 lebih tahan lama di tempat tertutup dan dingin.

Bagimana dengan vaksinasi covid-19?

Pandemi ini akan berakhir tatkala sudah terjadi herd immunity, yaitu minimal 70% atau 181 juta penduduk Indonesia sudah mendapatkan dua kali vaksinasi covid-19.

Untuk itu semua pihak harus menghentikan perdebatan seputaran vaksin covid-19, dan seluruh rakyat Indonesia harus berduyun-duyun lakukan vaksinasi covid-19.

“BADAI PASTI BERLALU”
SALAM SEHAT UNTUK RAKYAT INDONESIA
SEKALI OPTIMIS TETAP OPTMIS
JALANI KEBANGKITAN NEGERI. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga