oleh

Observasi Bahasa, Budaya, dan Kearifan Lokal di Ammatoa Kajang

-Berita, Budaya-311 views

Kelompok: 4 (Konjungsi)

Program Studi: Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas: FKIP
Perguruan Tinggi: Universitas Muhammadiyah Bone

Topikinformasi.com – Bulukumba – Sebanyak 150 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bone melaksanakan observasi lapangan di Kawasan Adat Ammatoa Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sabtu, 4 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti mahasiswa semester II dan VI ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang bahasa, budaya, dan kearifan lokal masyarakat adat melalui pembelajaran langsung di lapangan.

Sebelum memasuki kawasan adat, rombongan menerima arahan dari dosen pendamping terkait pelaksanaan observasi. Mahasiswa juga mendapat penjelasan mengenai aturan yang harus dipatuhi selama berada di kawasan adat. Selanjutnya, rombongan didampingi Yusuf selaku pemandu lokal yang menjelaskan berbagai aspek kehidupan masyarakat Kajang.

Baca Juga:  Mifans Bone Gelar XFF di Tengah Nuansa Hari Jadi Bone ke 693

Dari hasil observasi, mahasiswa mengetahui bahwa masyarakat Kajang masih menggunakan Bahasa Konjo atau Basa Kajang sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tersebut digunakan dalam lingkungan keluarga, kegiatan adat, dan komunikasi antarmasyarakat, sedangkan Bahasa Indonesia digunakan saat berinteraksi dengan masyarakat luar.

Mahasiswa juga mengamati berbagai unsur budaya yang masih dipertahankan, seperti rumah adat berbentuk rumah panggung tanpa aliran listrik, pakaian serba hitam sebagai simbol kesederhanaan, serta filosofi kamase-masea yang menjadi pedoman hidup masyarakat Kajang.

Selain itu, masyarakat tetap memegang teguh Pasang ri Kajang sebagai aturan adat yang mengatur kehidupan sosial sekaligus menjaga kelestarian hutan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  Antisipasi Terjadinya Bencana Alam, Brimob Bone Laksanakan Ini

Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung mengenai keterkaitan bahasa, budaya, dan kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat adat, sekaligus memperkaya wawasan tentang pentingnya menjaga warisan budaya di Sulawesi Selatan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *