Topikinformasi.com– Jakarta– Minggu 4 Januari 2026 –Remaja sering dianggap sebagai “generasi bermasalah”. Dalam percakapan orang tua di ruang tamu ataupun di grup WhatsApp keluarga, kita kerap mendengar keluhan tentang anak-anak yang terlalu sensitif, masa depannya tidak jelas, atau perilaku mereka yang tampak menyimpang dari norma. Namun sebelum kita cepat menilai mereka rusak atau gagal, mungkin kita perlu bertanya:
Apakah mereka benar-benar rusak atau justru sedang mencari tempat untuk pulang?
Dalam banyak kasus, permasalahan yang kita lihat pada remaja hari ini bukanlah cerminan dari moralitas yang hilang, tetapi cerminan dari dunia dewasa yang sibuk, cepat, dan sering kehilangan momen untuk hadir secara emosional di kehidupan anak-anaknya.
Remaja tumbuh di dunia yang berbeda dari zaman orang tua mereka dulu. Mereka hidup dalam realitas media sosial, ekspektasi akademik yang tinggi, komentar publik yang tajam, serta tuntutan agar selalu tampil sempurna. Di tengah gegap gempita dunia itu, mereka sering terjebak dalam standar perbandingan yang tidak manusiawi. Mereka belajar bahwa kecepatan menjadi ukuran, bukan kedalaman, gambar dan angka menjadi penentu harga diri, bukan proses dan kualitas hubungan.
Dalam situasi seperti itu, bukan hal yang aneh jika anak muda terlihat rapuh, mudah tersinggung, atau cenderung menarik diri. Mereka tidak rusak, mereka hanya sedang berusaha bertahan di dunia yang bergerak terlalu cepat tanpa memberi mereka ruang untuk bernapas.
Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat aman.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Sebuah ruang di mana mereka boleh salah, boleh gagal, dan boleh bangkit kembali. Tetapi ketika suasana rumah lebih banyak diisi oleh tekanan prestasi, agenda yang menumpuk, atau komunikasi yang terputus, maka rumah bisa berubah menjadi tempat yang terasa asing dan dingin bagi remaja.
Ketika percakapan sehari-hari di rumah lebih sering tentang tugas sekolah, jam tambahan kursus, atau peraturan disiplin, dan kurang tentang mendengarkan perasaan anak, maka anak akan mencari tempat lain untuk merasakan kehangatan emosional yang hilang.
Mereka mungkin beralih pada teman, komunitas online, atau lingkungan yang membuat mereka merasa dimengerti, meskipun kadang itu bukan lingkungan yang sehat.
Kehadiran orang tua tidak sekadar tentang ada secara fisik, tetapi ada secara emosional dan mental. Ia bukan sekadar memberi perintah, tetapi juga memberi ruang untuk mendengarkan. Tanpa itu, remaja bisa merasa kosong meskipun lingkungannya tampak lengkap secara materi.
Mendengar tanpa menghakimi adalah kunci utama
menjadi orang dewasa yang mampu menjadi tempat pulang bagi remaja bukanlah perkara mudah. Ini berarti kita perlu melatih diri untuk
mendengar lebih banyak daripada mengoreksi,
menanyakan lebih banyak daripada memberi nasihat,
menghargai proses mereka, bukan hanya hasilnya.
Remaja butuh merasa bahwa suara mereka didengar, perasaan mereka valid, dan ada ruang aman untuk berbicara tanpa takut dihukum atau dihakimi. Ketika kita memberi ruang seperti itu, kita bukan hanya membantu mereka tumbuh tapi kita juga menguatkan rasa percaya diri mereka untuk berdiri di tengah dunia yang penuh tuntutan.
Mereka tidak perlu sempurna. Mereka hanya perlu tahu bahwa ada orang dewasa yang bersedia mendengarkan mereka, bukan hanya mengatur mereka.
Belajar bersama, bukan sekadar mengarahkan
proses tumbuh remaja idealnya adalah kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda. Pendidikan bukan hanya perkara memberi pengetahuan, tetapi juga sebuah proses pendampingan. Pendidikan yang baik harus mampu
menjadi refleksi bagi mereka untuk mengenali diri,
mengajak mereka memahami dunia tanpa ketakutan,
memberi mereka ruang untuk mencoba, gagal, dan bangkit kembali.
Dalam dunia yang semakin kompleks, kita sering kehilangan keseimbangan antara mengatur remaja dan mendampingi remaja. Padahal, yang paling mereka butuhkan bukanlah aturan yang kaku, tetapi teladan yang hangat dan konsisten.
Orang dewasa yang mampu menjadi “Tempat Pulang” bukanlah mereka yang selalu benar, tetapi mereka yang ada ketika remaja merasa rapuh, bingung, atau takut.
Menutup dengan harapan, remaja hari ini tidak rusak. Mereka hanyalah generasi yang berusaha memahami dunia yang penuh kontradiksi, dunia yang menuntut hasil cepat tetapi lupa memberi ruang untuk proses yang dalam. Jika kita ingin generasi ini tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat, kita harus menjadi orang dewasa yang siap menjadi tempat mereka pulang, bukan dengan kritik tajam, tetapi dengan perhatian yang tulus.Sebab pada akhirnya, rumah terbaik bukanlah bangunan yang megah tetapi hati yang tulus bersedia menerima, mendengar, dan memahami. Siap menjadi tempat mereka pulang.
Penulis: Diana Bakti Siregar adalah Pemerhati masalah remaja dan Praktisi Talents Mapping.
(Fri)












Komentar