oleh

Memaknai Slogan Hari Jadi Bone Ke-691: Kebudayaan Sebagai Kritik

Topikinformasi.com-Bone Ya tutu ya upe, ya capa ya cilaka.
(Siapa berhati – hati akan beruntung, siapa teledor akan celaka)

Sepintas, makna dan pesan slogan ini baik. Tapi, sayangnya baik saja tidak cukup. Slogan di atas lemah di hadapan ilmu bahasa. Apatahlagi ilmu sastra. Lazim dipahami bahwa ilmu bahasa dan ilmu sastra merupakan bagian dari rumpun ilmu – ilmu budaya. Tulisan ini berupaya menggunakan cara pandang keilmuan tersebut untuk membedah slogan pada hari jadi Bone ke-691 di atas.

Jika diartikan secara bebas, atau lazim disebut sebagai parafrase, “ya tutu ya Upe, ya capa ya cilaka” berarti “siapa berhati – hati dialah yang beruntung, siapa teledor dialah yang celaka”. Sekali lagi, sepintas tidak ada masalah pada kalimat di atas. Namun, di hadapan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu bahasa dan kajian budaya[1], sesungguhnya slogan yang disebarluaskan secara massif di media sosial tersebut mengandung ‘masalah’.

Persoalan makna dan implikasi psikologis

Secara semantis, terdapat makna ‘negatif’ yang melekat pada kata ‘cilaka’, khususnya pada kalimat “ya capa ya cilaka”. Makna siapa yang berhati – hati akan beruntung dan siapa yang ‘teledor’ akan celaka adalah “jika ingin beruntung atau selamat, maka berhati – hatilah, karena jika salah langkah (teledor), maka akan celaka”. Maksud dari pesan di atas bisa dua hal. Pertama adalah pengingat, bahkan peringatan. Kedua, bisa dimaknai sebagai ‘ancaman’ atau upaya lepas tangan.

Sesungguhnya, kepada siapakah pesan ini ditujukan? Atau dari mana dan untuk siapakah pesan ini hadir dan dihadirkan? Apakah dari penguasa kepada rakyat, atau sebaliknya dari rakyat kepada penguasa? Atau dari rakyat ke sesama rakyat atau dari elit ke sesama elit? Atau, adakah yang lain? Soal dari mana pesan ini berasal dan ditujukan untuk siapa menjadi penting untuk melihat ‘relasi’ (hubungan) pemberi dan penerima pesan berikut implikasi (efek) yang diinginkan oleh penutur (pembuat pesan/ encoder) kepada penerima pesan (decoder).

Dalam kacamata pragmatik, implikasi dari sebuah pesan melalui bahasa dari pemberi pesan akan memberikan ‘efek’ kepada penerima pesan. Olehnya, sebuah pesan idealnya bertujuan memberikan implikasi sesuai dengan tujuan penutur (encoder). Pertanyaannya adalah, pesan yang ingin disampaikan dari slogan “ya tutu ya Upe, ya capa ya cilaka” itu apa? Apakah ini berlaku secara universal (umum), atau ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan oleh pembuat pesan? Jika ya, maka implikasi apa yang diinginkan? Apakah rakyat yang memberikan kritik (mapputane’) diminta untuk berhati – hati dan tidak sampai dianggap ‘teledor’? Atau justru pemerintah yang diminta demikian? Ataukah ada makna dan maksud lain dari pesan tersebut?

Sekali lagi, ini tergantung siapa yang membuat dan ditujukan kepada siapa? Atau, bisa jadi haluan berganti menjadi pesan diproduksi oleh siapa yang menyebarkan melalui poster – poster di media sosial kepada pembaca – pembacanya. Bagaimanapun, penting diketahui, bahwa praktik pemaknaan bersifat cair dan dinamis.

Akan tetapi, lazimnya, sebuah slogan yang mengandung pesan kebudayaan. Secara psikolinguistik (psikologi bahasa) sebuah pesan (message) sepatutnya bertujuan mendidik dan membangun motivasi. Dengan demikian, kalimat yang perlu dibangun adalah kalimat positif dan berimplikasi membangun motivasi dan inspirasi kepada penerima pesan (decoder). Jika nada yang dihasilkan kalimat pada slogan di atas justru mengandung unsur dan implikasi peringatan, bahkan ‘ancaman’, maka secara psikologis, slogan tersebut kurang baik secara implikatif.

Teks dan Konteks Wacana

Dalam analisis wacana (discourse analysis) dikenal hubungan antara teks, konteks, dan praktik sosial. Dari teks slogan , “ya tutu ya Upe, ya capa ya cilaka”, dapat dibaca bahwa “ada mentalistik lepas tangan yang tertanam di pemimpin Bone (jika konteksnya produsen makna adalah pihak Pemda). Seolah – olah slogan tersebut bermaksud mengatakan, “rezeki dan pekerjaan itu dicari masing masing, silakan selamatkan diri masing – masing”. Begitu pandangan seorang peneliti bahasa yang sempat penulis tanya perihal ini. Pandangan ini bisa lahir jika membedah teks slogan di atas dari kacamata analisis wacana.

Jika ditelisik lebih jauh dan lebih mendalam lagi, secara wacana, pada ‘struktur batin’ teks bahasa pada kalimat di atas[2], “tampaknya masih ada perang tersembunyi di benak penulis slogan itu”. Artinya, jika ditelisik lebih jauh, ada pesan (tersembunyi) bahkan bernada peringatan (lebih jauh lagi bisa dinilai sebagai ancaman) di balik kalimat slogan hari jadi Bone ke-691 ini. Salah satu yang paling gamblang adalah pesan literal yang jika dibalik maka akan bermakna “jika tidak ingin celaka, maka berhati – hatilah” (kuteaki macilaka, akkaritutuki). Implikasi dari makna pesan ini bercabang. Bisa dimaknai positif, bisa juga negatif. Tergantung konteksnya.

Nah, soal konteks ini yang menarik. Apakah yang sedang terjadi di Bone hari ini di peringatan hari jadinya yang ke-691? Tentunya, perihal ini, yang paling tahu adalah Tuhan YME, pemimpin Bone dan rakyat Bone itu sendiri. Apakah kira – kira ‘konteks’ dari slogan tersebut?

Jika boleh, mari kita mengira – ngira. Apakah ada hubungannya dengan peristiwa dan situasi sosial ekonomi, budaya, dan politik di Tana Bone akhir – akhir ini, atau setidaknya satu tahun terakhir? Wallahualam.

Ataukah, konteksnya adalah agenda setahun dua tahun ke depan yang akan dihelat di Kabupaten yang memiliki slogan “Bone Beradat” tersebut? Hanya Tuhan dan Orang Bone kiranya yang bisa tahu secara pasti. Memahami dan memastikan soal konteks wacana slogan di atas butuh penyelidikan dan pengkajian yang lebih mendalam. Namun, menganalisa dan mengira – ngira, penulis pikir tak ada salahnya pula. Apa konteks wacana dari slogan tersebut? Mari kita pikirkan dan diskusikan bersama.

Yang pasti, penyebaran poster hari jadi Bone tersebut berikut slogan yang nyaris seragam itu merupakan sebuah praktik sosial. Penyebaran slogan melalui poster – poster di media sosial yang merupakan praktik berwacana ini jamak dilakukan oleh warga Bone maupun yang mendaku diri berdarah Bone, meski barangkali tak lagi ber-KTP Bone. Atau, bisa jadi, ada yang turut meramaikan saja tanpa ada relasi ke-Bone-annya.

Dalam amatan penulis, setidaknya terdapat unsur ASN Bone, Mahasiswa, Dosen, hingga masyarakat umum menggunakan poster bergambar dirinya berikut ucapan hari jadi Bone ke-691 dengan slogan “ya tutu ya Upe , ya capa ya cilaka” ini. Dengan demikian, bisa dikata, penyebaran praktik wacana slogan tersebut telah berlangsung secara massif (barangkali juga terlaksana secara terstruktur dan sistematis jika menjadi ‘instruksi’ atau himbauan pemerintah daerah kepada instansi – instansi berikut aparatnya hingga ke tingkatan terbawah). Artinya, secara praktik berkebudayaan, orang Bone bisa dinilai merayakan slogan ini dengan penuh semangat dan gegap gempita.

Perihal di atas, penulis sempat menanyakan kepada kolega[3] di Universitas yang konsen di bidang kajian bahasa. Tanggapannya seperti ini: secara sosiologis dan konteks wacana secara luas maka, “Dan jika dihubungkan dengan kondisi hukum dan keadilan di Indonesia saat ini, dengan rapuhnya masyakarat di hadapan UU ITE, diharapkan selalu berhati – hati berbicara, berkomentar, dan berbuat, karena itu tidak bisa dijamin keselamatannya (oleh pemerintah daerah)”. Tentu konteks dari pandangan ini adalah jika yang mem-produksi teks slogan tersebut adalah pemerintah daerah atau disetujui oleh pemerintah daerah.

Selain itu, jika slogan itu diproduksi oleh orang banyak (to maegae) dan ditujukan kepada pemerintah daerah dan atau ke sesama maka praktik pemaknaannya akan berbeda lagi. Satu hal yang pasti, bahwa slogan tersebut berimplikasi beragam (multiinterpretasi) dan bisa dimaknai secara merdeka oleh publik. Dan secara tekstual dan kontekstual berpotensi dimaknai secara ‘negatif’.

Refleksi dan Kritik Kebudayaan

Sebagai refleksi sekaligus kritik membangun, penting disampaikan bahwa sebagai hajatan resmi dan merupakan publikasi media (baik di media sosial
maupun media massa), maka perlu penciptaan pesan dan slogan yang mengandung makna positif dan berimplikasi memotivasi serta menginspirasi to maega / to tebbe’na Tana Bone. Hal – hal yang berpotensi melahirkan multi-tafsir, mis-interpretasi apalagi pemaknaan negatif sebaiknya dihindari. Ini demi kebaikan bersama sesama To-Bone dan publik secara luas.

Dengan demikian, perlulah kiranya suatu pekerjaan diserahkan kepada ahlinya. Right man on the Right Place (Orang tepat di posisi yang tepat), kata orang Inggris. Atau minimal pelibatan unsur bersama dari ahli bahasa dan budaya, tokoh (budayawan), dan praktisi di lapangan.

Apalagi Bone yang dikenal dengan slogan “Bone Beradat” dan sudah memiliki instansi khusus yang menangani urusan Kebudayaan — Dinas Kebudayaan perlu menjadi contoh yang baik bagi daerah lain di bidang Kebudayaan. Ditambah lagi, dibanyak Universitas, orang – orang Bone tak sedikit yang menjadi Ahli dan Akademisi di bidang Bahasa dan Budaya. Ke depan, sinergi dan kolaborasi perlu semakin ditingkatkan di hari – hari depan dalam rangka menghindari kekeliruan kecil yang bisa berdampak besar bagi hidup dan berkembangnya pemajuan kebudayaan di Tana Bone.

Demikian, semoga bermanfaat.
Selamat Hari Jadi Bone ke-691

“Tellabu Essoe Ritengngana Pitarae”
Salama’ki tafada Salama’.

NB:
[1] Lebih spesifik lagi, dalam linguistik (ilmu bahasa) dan kajian budaya dikenal pendekatan semantik (ilmu makna), pragmatik (ilmu makna dari ujaran), Psikolinguistik (psikologi bahasa), sosiolinguistik (sosiologi bahasa), dan analisis wacana. Sebuah produk bahasa dapat dibedah menggunakan pendekatan – pendekatan ini. Termasuk sebuah slogan dalam poster.
[2] Dalam ilmu bahasa dikenal struktur permukaan (surface structure) dan struktur batin (deep structure) bahasa.
[3] Bidang kajian dan keahlian narasumber penulis adalah linguistik (ilmu bahasa), khususnya psikolinguistik dan sosiolinguistik.


Ulla Mappatang
Lahir dan Besar di Bone
Pembelajar Bahasa, Sastra dan Kajian Budaya-Media

(MUS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga